twitter
rss

Tampilkan postingan dengan label Main. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Main. Tampilkan semua postingan


Bermain pura-pura selalu menjadi permainan favorit anak. Secara alamiah anak memang menyukai permainan ini. Hampir semua anak melakukannya sesuai dengan imajinasi dan daya khayal masing-masing.

“Mamam dulu ya… aaa…” Itulah yang dikatakan Prue (1 tahun 8 bulan) pada bonekanya, Dandelion. Seperti ibu yang baik, ia menyuapi bonekanya, menggendongnya dengan selendang, lalu menidurkannya. Ketika si Mbak berbicara agak keras dengannya, ia langsung meletakkan ibu jarinya di atas bibir. “Sssttt… Mbak jangan berisik. Dandel lagi bobo,” bisiknya. Lain kali, Prue akan pura-pura menjadi dokter dan memeriksa pasiennya. Siapa lagi pasiennya kalau bukan Dandel.

Lingkungan pun besar pengaruhnya karena apa yang menjadi imajinasi si kecil biasanya terinspirasi dari apa yang ia lihat atau amati dari sekelilingnya. Kalau ia memiliki kesan mendalam dengan dokter anak yang sering memeriksanya, misalnya, mungkin ia akan senang berpura-pura jadi dokter dan memeriksa ‘pasien’nya yang tak enak badan.

Selain mengasyikkan, permainan ini juga efektif dalam mendukung kesiapan anak untuk sekolah. Sebuah penelitian terhadap anak dan pengasuh yang sering bermain pura-pura dengan melakukan permainan yang melibatkan bentuk, warna, angka, dan bahkan kosa kata maupun bacaan terbukti bahwa cara imajinatif yang mereka gunakan memberi hasil yang berarti dalam mendukung kemampuan membaca anak. Bermain seperti ini juga baik bagi si pengasuh karena terlibat sebagai mitra penuh dalam proses pengasuhan membuat ia bisa dekat dengan anak yang diasuhnya. 

Menurut Susan Linn, penulis The Case for Make Believe: Saving Play in a Commercialized World, bermain pura-pura sebetulnya lebih dari sekadar permainan anak-anak karena sangat penting bagi perkembangan kreativitas, empati, maupun kemampuan belajar dan memecahkan masalah pada anak.

Dengan bermain pura-pura, anak belajar mengalahkan rasa takut, mengeksplorasi bakat, atau mengembangkan impian dan cita-cita. Saat melakukan permainan ini, ia sekaligus akan mengembangkan inisiatif dan tidak hanya sekadar memberi respon yang pasif. Anak juga akan lebih terlatih untuk memberi respon terhadap sesuatu secara jujur dan apa adanya. Karena itu, dukung dia dan luangkan waktu untuk bermain pura-pura dengannya ya, Ma!

Source : www.parenting.co.id



Sebagai orang tua, tentunya kita menginginkan anak bisa tumbuh cerdas dan memiliki masa depan yang cerah.

Inilah yang menyebabkan kita selektif memilih permainan bagi anak atau balita. Apalagi, menurut berbagai ahli perkembangan anak, pada masa Golden Period yang berlangsung pada usia balita, otak anak sedang berkembang dengan pesat. Jadi, masa-masa ini adalah saat yang tepat untuk memberi stimulasi positif kepada anak.

Apa, sih, stimulasi otak itu?
Sebenarnya sederhana saja bunda, stimulasi otak adalah kegiatan yang dilakukan untuk merangsang otak anak bekerja dan berproses secara positif. Nah, karena pada masa Golden Period kegiatan yang paling digemari anak adalah bermain, maka sudah sepatutnya kita menstimulasi dengan rangsangan positif dari beragam permainan.

“Bermain tidak hanya melatih perkembangan fisik, tetapi juga otak/intelektual. Stimulasi otak yang terjadi saat anak bermain akan mengembangkan aspek-aspek kognitif seperti kemampuan memecahkan masalah anak, kemampuan bahasa, asah logika, serta
konsep-konsep dasar lainnya yang juga diajari di sekolah. Tidak hanya itu, permainan yang dilakukan bersama keluarga dapat meningkatkan kepercayaan dan ikatan di antara anak dan orangtua.” pendapat Ibu Lely Tobing, pakar PAUD dan praktisi Brain Gym.

Beliau melanjutkan, banyak aktivitas menyenangkan yang dapat dilakukan bersama anak; mulai dari bermain lempar tangkap bola, bersepeda disekitar rumah, menggambar bersama, bermain sepak bola, atau bahkan berkebun bersama. Selain itu, alat permainan
pun bisa menjadi pilihan yang baik saat santai di rumah.

“Tapi ingat! Kita harus bisa selektif, bukan membatasi! Nah, yang saya maksud dengan selektif adalah pemilihan jenis permainan yang menarik, namun edukatif dan dapat merangsang perkembangan kognitifnya,” papar Ibu Lely.

Oleh karena itu, Ibu Lely kerap mengakhiri sesi praktek Brain Integrated Gym ® pimpinannya dengan menyarankan orang tua untuk memilih permainan yang bersifat edukatif. “Untuk anak usia dini, akan lebih baik jika si Kecil diberikan permainan yang memang dirancang untuk mengolah otaknya, seperti alat permainan edukatif yang tersedia dalam berbagai macam bentuk” lanjut Ibu Lely.

Pendapat ini ternyata didukung oleh Alvin Rosenfeld, profesor pendidikan anak Universitas Stanford. Menurutnya, mainan yang dirancang baik dan dan sesuai untuk anak usia dini dapat bantu kembangkan proses kognitif otaknya. Misalnya melalui permainan
mencocokkan bentuk yang dapat melatih si kecil mengenali bentuk dan ukuran. Begitu juga bermain balok-balok kayu untuk melatih si kecil mengkoordinasi gerak motorik dan keseimbangannya.

Dr. Alvin Rosenfeld lebih jauh lagi berpendapat bahwa hal serupa juga ditemui pada permainan board games yang menantang si kecil untuk memecahkan masalah sederhana. Seperti mencari perbedaan pada sebuah gambar, atau mencari jalan keluar dari sebuah
gambar labirin. Melalui aktivitas-aktivitas ini, otak si Kecil pun didorong untuk mencari solusi yang dibutuhkan. Sehingga, proses perkembangan kognitifnya pun berjalan dengan baik!

“Pada intinya, bermain adalah stimulasi yang baik bagi perkembangan anak. Sebaiknya, balita  dapat diajak bermain sejak dini karena setiap tahapan perkembangan akan mempengaruhi sebaik apa pertumbuhannya. Selain bantu optimalkan proses kognitifnya, bermain dapat membuat anak lebih mandiri dan gembira dengan dirinya”, tutup Ibu Lely.
Untuk informasi lebih lanjut mengenai permainan olah otak untuk anak, yuk lihat info lengkapnya disini. (WEBTORIAL)