twitter
rss

Tampilkan postingan dengan label cerdas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerdas. Tampilkan semua postingan



KOMPAS.com - Azka Qinthara (3) tengah gandrung meniru apapun yang terlihat olehnya di layar kaca, khususnya adegan orang sedang bermain gitar. Jadilah, setiap memegang benda apapun yang dipegang lantas disulapnya menjadi gitar dan mengubahnya menjadi seorang gitaris.
Bukan hanya Azka, banyak lagi balita berlaku serupa. Tidak usah heran, apalagi khawatir selama Anda sebagai orang tua bisa mengawasi dan mengarahkan. Karena pada akhirnya, ada berbagai macam benda atau mainan dan permainan yang bisa berguna membantu kecerdasan balita Anda.
Hal tersebut seperti dikemukakan oleh Muhammad Rizal, Psi, di acara Smart Parents Conference bertajuk 'Aneka Permainan yang Mencerdaskan Anak' yang diselenggarakan oleh Tabloid Nakita di Jakarta, Sabtu (25/7). Menurutnya, pada saat ini kecerdasan anak sudah sedemikian maju dan kompleks, sehingga membutuhkan stimulasi yang lebih untuk mengembangkan mereka.
"Usia anak sudah mulai bisa berkomunikasi dalam bentuk percakapan sederhana dan sudah memiliki kemampuan pemecahan masalah dan ini saat yang tepat untuk mengembangkan kepercayaan dirinya," ucapnya.
Judul Baru
Terutama balita, bermain memang kesukaan semua anak, baik perempuan maupun laki-laki. Dan sebagai orang tua, sudah semestinya kita dapat memilih mainan untuk mereka.
Namun, ada baiknya bukan semata mainan yang mereka sukai, tetapi usahakan mainan yang sekaligus bisa untuk mendidik pertumbuhan kecerdasannya. Seperti apa saja permainan atau mainannya, simak berikut ini:
- Musik membantu perkembangan otak balita. Namun, lantaran itu Anda tak perlu secara khusus mengajarnya memainkan gitar. Anda cukup membelikannya gitar ukuran kecil untuk anak-anak dan kaset atau CD lagu anak-anak yang disukainya.
- Jika tidak dengan sepeda roda tiga, gunakan balok kayu yang ditaruh di atas permukaan tanah. Ajak balita Anda berjalan di atasnya, selain bisa untuk melatih keseimbangan, permainan balok keseimbangan (balance beam) ini juga sangat berguna untuk menempa saraf motoriknya
- Di usia 3 tahun anak bukan lagi bisa bermain tangkap atau lempar bola, tapi sudah bisa memainkanya sebagai permainan laiknya orang dewasa. Fokus pada sesuatu, kepatuhan, serta kepercayaan diri akan menjadi gol yang menarik dari permainan ini bersamanya.
- Panjat tangga atau perosotan dan petak umpet merupakan permainan sederhana tetapi sangat baik untuk balita, karena bukan saja bisa membuatnya riang melainkan juga untuk melatih fokus, konsentrasi, dan daya refleksnya.

Tips Membeli Mainan
Kini, semakin banyak variasi mainan anak bisa ditemukan di berbagai pusat belanja dan toko mainan. Bukan hanya dari produk lokal Indonesia, bahkan impor pun kian membanjiri pasar mainan anak.
Untuk itu, kini semakin tidak bisa sembarang memilih mainan. Karena, belum tentu mainan-mainan tersebut bermanfaat dan cocok untuk anak Anda, sebab belum tentu semua mainan edukatif dan membantu mengembangkan kecerdasan balita Anda.
Nah, bagaimana memilih mainan anak yang edukatif dan aman untuknya di toko-toko mainan yang keberadaannya kian semudah membalik telapak tangan?

- Untuk kenyamanan dan keselamatan balita Anda, sangat penting untuk memerhatikan label mainan satu per satu. Tanpa keterengan tersebut, Anda tidak bisa mengetahui, apakah mainan itu bisa direkomendasikan atau cocok untuk usia balita Anda
- Pilih mainan yang tidak mudah rusak atau copot, hal ini juga untuk keamanan balita Anda agar tidak melukai dirinya saat bermain
- Buku cerita yang penuh aneka gambar dan warna juga mainan menarik untuk anak. Dengan mengenalkan dan menambah kosa kata baru untuknya, kemampuan Anda mengolah cerita di buku tersebut akan melatihnya secara tak langsung mengenal huruf
- Main rumah-rumahan di tempat tidur? Ini paling sering dilakukan oleh anak, maka itulah jangan Anda melarangnya. Biarkan anak Anda menyusun bantal, guling, selimut seolah-olah tengah membuat bangunan rumahnya sendiri. Untuk mendukung mainan barunya itu, kini banyak toko mainan menawarkan balok dan rumah-rumahan dari plastik dengan ukuran besar dan kecil, tergantung kebutuhan dan usia anak.
- Untuk melatih otaknya berpikir logis dan membiasakannya menyesaikan sebuah masalah, ajak balita Anda memainkan jigsaw puzzle dengan ukuran yang tidak terlalu kecil untuknya.

sumber: kompas.com



Sebagai orang tua, tentunya kita menginginkan anak bisa tumbuh cerdas dan memiliki masa depan yang cerah.

Inilah yang menyebabkan kita selektif memilih permainan bagi anak atau balita. Apalagi, menurut berbagai ahli perkembangan anak, pada masa Golden Period yang berlangsung pada usia balita, otak anak sedang berkembang dengan pesat. Jadi, masa-masa ini adalah saat yang tepat untuk memberi stimulasi positif kepada anak.

Apa, sih, stimulasi otak itu?
Sebenarnya sederhana saja bunda, stimulasi otak adalah kegiatan yang dilakukan untuk merangsang otak anak bekerja dan berproses secara positif. Nah, karena pada masa Golden Period kegiatan yang paling digemari anak adalah bermain, maka sudah sepatutnya kita menstimulasi dengan rangsangan positif dari beragam permainan.

“Bermain tidak hanya melatih perkembangan fisik, tetapi juga otak/intelektual. Stimulasi otak yang terjadi saat anak bermain akan mengembangkan aspek-aspek kognitif seperti kemampuan memecahkan masalah anak, kemampuan bahasa, asah logika, serta
konsep-konsep dasar lainnya yang juga diajari di sekolah. Tidak hanya itu, permainan yang dilakukan bersama keluarga dapat meningkatkan kepercayaan dan ikatan di antara anak dan orangtua.” pendapat Ibu Lely Tobing, pakar PAUD dan praktisi Brain Gym.

Beliau melanjutkan, banyak aktivitas menyenangkan yang dapat dilakukan bersama anak; mulai dari bermain lempar tangkap bola, bersepeda disekitar rumah, menggambar bersama, bermain sepak bola, atau bahkan berkebun bersama. Selain itu, alat permainan
pun bisa menjadi pilihan yang baik saat santai di rumah.

“Tapi ingat! Kita harus bisa selektif, bukan membatasi! Nah, yang saya maksud dengan selektif adalah pemilihan jenis permainan yang menarik, namun edukatif dan dapat merangsang perkembangan kognitifnya,” papar Ibu Lely.

Oleh karena itu, Ibu Lely kerap mengakhiri sesi praktek Brain Integrated Gym ® pimpinannya dengan menyarankan orang tua untuk memilih permainan yang bersifat edukatif. “Untuk anak usia dini, akan lebih baik jika si Kecil diberikan permainan yang memang dirancang untuk mengolah otaknya, seperti alat permainan edukatif yang tersedia dalam berbagai macam bentuk” lanjut Ibu Lely.

Pendapat ini ternyata didukung oleh Alvin Rosenfeld, profesor pendidikan anak Universitas Stanford. Menurutnya, mainan yang dirancang baik dan dan sesuai untuk anak usia dini dapat bantu kembangkan proses kognitif otaknya. Misalnya melalui permainan
mencocokkan bentuk yang dapat melatih si kecil mengenali bentuk dan ukuran. Begitu juga bermain balok-balok kayu untuk melatih si kecil mengkoordinasi gerak motorik dan keseimbangannya.

Dr. Alvin Rosenfeld lebih jauh lagi berpendapat bahwa hal serupa juga ditemui pada permainan board games yang menantang si kecil untuk memecahkan masalah sederhana. Seperti mencari perbedaan pada sebuah gambar, atau mencari jalan keluar dari sebuah
gambar labirin. Melalui aktivitas-aktivitas ini, otak si Kecil pun didorong untuk mencari solusi yang dibutuhkan. Sehingga, proses perkembangan kognitifnya pun berjalan dengan baik!

“Pada intinya, bermain adalah stimulasi yang baik bagi perkembangan anak. Sebaiknya, balita  dapat diajak bermain sejak dini karena setiap tahapan perkembangan akan mempengaruhi sebaik apa pertumbuhannya. Selain bantu optimalkan proses kognitifnya, bermain dapat membuat anak lebih mandiri dan gembira dengan dirinya”, tutup Ibu Lely.
Untuk informasi lebih lanjut mengenai permainan olah otak untuk anak, yuk lihat info lengkapnya disini. (WEBTORIAL)